Kamis, 15 Maret 2012

LAPORAN AKHIR PETA KONTUR (IUTPW)


Mata Kuliah: Ilmu Ukur Tanah
Hari/tanggal
: Selasa, 7 November 2010

dan Pemetaan Wilayah
Waktu             
: 07.00-15.00 WIB


Tempat
: Hutan Cangkurawok


Kelompok
: 3 (tiga)

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
PEMBUATAN PETA KONTUR

Disusun oleh :
Jajang Roni A. Kholik      (E14090090)
Hastuti Dyah Prajna         (E14090024)
Juanda                               (E14090003)
Boy Tantri Tarigan           (E14090004)
Fatih Mulia Utama            (E14090030)
Widi Elita Hardianti         (E14090054)
Niken larasati                    (E14090070)
Elvira Novizar                  (E14090121)

M. Panji Solihin            (E140900131)


Dosen :
Endim Dimyana B., Sc. F.
Asisten :
Muhammad Fajar              (E2403074)
Rama Aditya Kusuma       (E14070076)
I Putu Arimbawa Pande    (E14070015)
M. Amar Syakir                 (E14070047)
Monika Turana                  (E14070070)
Finny Noviantiny              (E14070014)
Januar Satya Nugraha        (E14061679)
Frensi Firma                      (E14070001)





DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
I. PENDAHULUAN

1.1        Latar belakang
Masa pembangunan dewasa ini, ketersediaan peta menjadi suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan, terlebih untuk pembangunan fisik. Sebagaimana kemajuan di bidang ilmu teknologi yang demikian pesat, teknik pemetaan pun sudah sedemikian berkembang, baik dalam hal teknik pengumpulan data maupun proses pengolahan dan penyajian baik secara spasial maupun sistem informasi kebumian lainnya. Pemetaan teristris adalah proses pemetaan yang pengukurannya langsung dilakukan di permukaan bumi dengan peralatan tertentu. Teknik pemetaan mengalami perkembangan sesuai dengan berkembangnya ilmu dan teknologi. Dengan perkembangan peralatan ukur tanah secara elektronis, maka proses pengukuran menjadi semakin cepat dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Setiap teknik mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga dalam pemilihannya sangat bergantung dengan tujuan pemetaan, tingkat kerincian obyek yang harus disajikan, serta cakupan wilayah yang akan dipetakan. Dalam pengukuran di lapangan menggunakan peralatan pengukuran, seperti : teodolit, rambu ukur, pita ukur, dan lain lain. Agar pengukuran dapat diwujudkan dalam bentuk peta, setelah semua data dihitung, meliputi perhitungan koordinat (x;y), titik-titik kerangka pemetaan (poligon), perhitungan ketinggian titik-titik poligon (z), sudut arah dan jarak titik-titik detil serta ketinggiannya. Langkah selanjutnya penggambaran dengan garis kontur.

1.2     Tujuan
Praktikum pembuatan peta kontur bertujuan untuk :
1.      Mengukur suatu wilayah dengan menggunakan beberapa metode seperti : metode poligon tertutup, poligon terbuka, dan metode polar.
2.      Melakukan perhitungan data hasil pengukuran.
3.      Membuat peta kontur wilayah yang telah diukur.
4.      Menentukan kelerengan kontur pada peta kontur.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Beberapa metode penarikan garis kontur, antara lain metode langsung, yaitu : titik-titik yang sama tinggi di lapangan secara langsung oleh alat penyipat datar, rambu ukur, dan patok-patok yang jumlahnya banyak. Cara ini kurang praktis dan membutuhkan waktu yang banyak di lapangan. Metode tidak langsung, yaitu digambar atas dasar ketelitian detail hasil plotting yang tidak merupakan kelipatan dari interval kontur yang diperlukan, sehingga diperlukan penentuan posisi titik-titik yang mempunyai ketinggian kelipatan dari interval kontur. (Basuki 2006)
Menurut Basuki (2006), metode tidak langsung dapat dilakukan dengan metode matematis dengan menggunakan interpolasi linier, interpolasi yang sebanding dengan jaraknya. Perhitungannya sangat tepat dan diperlukan alat bantu hitung kalkulator. Metode semi segitiga menggunakan mistar segitiga dengan ada angka pembagian sampai millimeter atau alat interpolasi radialgraph yang terbuat dari kertas transparan. Metode grafis digunakan untuk peta-peta skala menengah dan kecil. Cara metode ini memberi angka ketinggian pada setiap garis kontur dan setiap lima buah kontur atau angka kelipatan tertentu garis kontur dibuat agak tebal. Untuk menghindari kesalahan morfologi dari garis kontur, distribusi dari detail ketinggian harus disesuaikan dengan kondisi topografi medan dan skala peta yang dibuat. Apabila medan bergelombang, maka untuk medan yang beda tingginya lebih besar daripada besarnya kontur interval harus diukur, namun pada medan kemiringannya seragam cukup diukur pada awal dan akhir kemiringan tersebut walaupun jaraknya cukup jauh.
Garis kontur mempunyai arti yang penting bagi perencanaan rekayasa, karena dari peta kontur dapat direncanakan, antara lain : penentuan rute, saluran irigasi, bentuk irisan, tampang pada arah yang dikehendaki, gambar isometrik dari galian/timbunan, besar volume galian/timbunan, penentuan batas genangan pada waduk, dan arah drainase. (Basuki 2006)
Agar pengukuran dapat diwujudkan dalam bentuk peta, setelah semua data di lapangan dihitung, meliputi perhitungan koordinat (x,y), titik-titik kerangka pemetaan (poligon), perhitungan ketinggian titik-titik poligon dari pengukuran sipat datar, penarikan garis-garis kontur, dan editing. (Basuki 2006)
Kesalahan yang terjadi pada saat penggambaran peta adalah kesalahan plotting titik kontrol, ketelitian yang diisyaratkan sebesar 0,1 mm. Ketelitian penggambaran peta yang disebabkan oleh alat-alat penggambaran diusahakan tidak melebihi 0,2 mm. (Basuki 2006)
Pengukuran detil merupakan pekerjaan dimana posisi bentuk-bentuk planimetris dan garis-garis kontur berdasarkan pada titik-titik kontol tertentu. Gambar detil dibuat disekitar titik-titik kontrol tertentu. Gambar detil dibuat di sekitar titik-titik kontrol pembantu, yang akhirnya pengukuran detail dari gambar tersebut. (Basuki 2006)
Bentuk permukaan tanah dapat dinyatakan dengan susunan garis-garis lengkung horizontal dengan interval tinggi tertentu. Elevasi lapangan dapat diukur dengan garis-garis lengkung horizontal. Peta-peta topografi mempunyai ketinggian garis-garis lengkung horizontal yang sama disebut jarak antara garis-garis lengkung horizontal. (Sastrodarsono, 2005)
















III. METODE PRAKTIKUM

3.1.   Waktu dan tempat praktikum
Praktikum pembuatan peta kontur dilaksanakan pada tanggal 7 November 2010 yang dimulai pada pukul 07.00-15.00 WIB bertempat di Laboratorium LPPU-Departemen Manajemen Hutan dan Hutan Pendidikan Cangkurawok.

3.2     Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
a.       Theodolit
b.      Patok (ukuran  lebar 5 dan cm panjang 15 cm)
c.       Pita ukur
d.      Kompas
e.       Rambu ukur
f.       Parang
g.      Senter
h.      Payung
Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah:
a.       Lokasi Hutan Pendidikan Cangkurawok
b.      Alat tulis
c.       Tally sheet

3.3     Prosedur praktikum
1.      Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada praktikum.
2.      Menentukan dan menandai titik-titik  pada lokasi Hutan Pendidikan Cangkurawok yang akan digunakan sebagai titik-titik poligon, serta menandai titik bantu yang berada pada poligon tersebut.
3.      Melakukan sentering, mendatarkan, dan mengkalibrasi alat theodolit pada titik pertama yaitu dengan cara sebagai berikut:



·   Sentring :
a.       Buka ketiga klem kaki statip, dirikan statip diatas patok dengan merentangkan ketiga kaki hingga ketiga ujung kaki statip membentuk segitiga sama sisi dengan patok sebagai pusatnya.
b.      Tarik statip bagian atas hingga tinggi kepala statip kira-kira sedikit dibawah dada dan kepala statip mendatar. Kokohkan statip dengan menginjak pijakan dibagian bawah statip, Kemudian kencangkan ketiga baut statip.
c.       Pasang instrumen diatas statip, hubungkan dengan cara memutar baut instrumen dilubang dratnya pada plat dasar instrumen.
d.      Perhatikan apakah ujung patok terlihat pada alat sentering optik.
e.       Kencangkan baut instrumen secukupnya.
·   Mendatarkan alat :
Atur gelembung nivo kotak dan nivo tabung agar berada tepat di tengah-tengah nivo.
·   Mengkalibrasi alat :
a.       Mencari utara magnet bumi dengan kompas.
b.      Kalibrasi alat dengan membuat sudut horizontal 0°00ˈ00ˈˈ dan sudut vertical 90°00ˈ00ˈˈ.

4.      Melakukan bidikan pertama yaitu ke arah titik pasti, bidik ke arah rambu meter yang didirikan pada titik pasti kemudian amati dan catat sudut horizontal (RB), sudut vertikal, batas bawah garis bidik batas tengah garis bidik, dan batas atas garis bidik, kemudian ukur dan catat jarak datar dengan cara mengukur jarak mendatar menggunakan pita ukur.
5.      Theodolit pada titik pertama jangan dipindahkan dahulu karena akan digunakan untuk membidik ketitik kedua. Amati dan catat sudut horizontal (RM), sudut vertikal, batas atas garis bidik, batas bawah garis bidik, serta ukur dan catat jarak datar dengan cara mengukur jarak mendatar menggunakan pita ukur.
6.      Pindahkan theodolit ke titik dua, lakukan sentering dan datarkan alat. Lakukan bidikkan kearah titik satu, amati dan catat sudut horizontal (RB), sudut vertikal, batas atas garis bidik, batas tengah garis bidik, dan batas bawah garis bidik.
7.      Kemudian bidik kearah titik tiga (kearah rambu meter yang sudah ditandai) amati dan catat sudut horizontal (RM), sudut vertikal, batas atas garis bidik, batas bawah garis bidik, dan batas tengah garis bidik. Kemudian ukur dan catat jarak datarnya.
8.      Pindahkan theodolit ketitik tiga, lakukan sentering dan datarkan alat. Lakukan bidikkan kearah titik dua, amati dan catat sudut horizontal (RB), sudut vertikal, batas atas garis bidik,batas tengah garis bidik dan batas bawah garis bidik. Titik tiga ini merupakan titik awal poligon tertutup. Ukur juga sudut horizontal (RM), sudut vertikal, batas atas garis bidik, batas tengah garis bidik dan batas bawah garis bidik pada titik bantu pertama (untuk mengetahui beda tinggi dua titik).
9.      Kemudian bidik kearah titik empat (kearah rambu meter yang sudah ditandai) amati dan catat sudut horizontal (RM), sudut vertikal, batas atas garis bidik, batas bawah garis bidik, dan batas tengah garis bidik. Kemudian ukur dan catat jarak datarnya.
10.  Lakukan langkah-laangkah yang sama pada titik-titik poligon selanjutnya. Lakukan pengukuran juga jika ada titik bantu (amati dan catat sudut horizontal (RM)), sudut vertikal, batas atas garis bidik, batas tengah garis bidik dan batas bawah garis bidik pada titik bantu (untuk mengetahui beda tinggi dua titik).
11.  Pada saat telah kembali ke titik tiga maka lakukan pengukuran juga kembali kearah titik empat agar poligon tertutup sempurna.

           






IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1   Hasil





























4.2   Pembahasan
Praktikum pembuatan kontur merupakan praktikum terakhir yang dilakukan pada mata kuliah ilmu ukur tanah dan pemetaan wilayah. Praktikum kali ini, yaitu praktikum yang menggunakan beberapa metode dalam proses pengukuran, seperti : metode polar, metode poligon tertutup, dan metode poligon terbuka. Akhir dari praktikum kali ini yaitu pembuatan peta kontur.
Kontur adalah garis khayal yang menggambarkan semua titik yang mempunyai ketinggian yang sama dari bidang referensi tertentu, umumnya bidang yang digunakan adalah permukaan air laut. Kontur digambarkan dengan interval vertikal yang reguler. Interval kontur adalah jarak vertikal antara dua garis ketinggian yang ditentukan berdasarkan skalanya. Bentuk suatu kontur menggambarkan bentuk suatu permukaan lahan yang sebenarnya. Kontur-kontur yang berdekatan menunjukkan kemiringan yang terjal, kontur-kontur yang berjauhan menunjukkan kemiringan yang landai. Garis kontur menunjukkan tinggi suatu tempat di atas permukaan laut, menunjukkan bentuk relief, menunjukkan bentuk lereng. Fungsi garis kontur di bidang kehutanan dapat menunjukan rute jalan/irigasi, arah drainase, bentuk irisan atau tampang pada arah yang dikehendaki.
Peta kontur itu sendiri merupakan peta yang menggambarkan sebagian bentuk-bentuk permukaan bumi yang bersifat alami dengan menggunakan garis-garis kontur. Peta kontur merupakan salah satu contoh dari peta khusus atau peta tematik. Ada beberapa karakteristik garis-garis kontur, yaitu garis yang tertutup, tidak berpotongan, berhimpit pada tempat lereng tegak, kondisi normal ketinggiannya semakin naik, dan meruncing ke arah hulu. Interpretasi peta kontur memberikan informasi tentang ketinggian tempat, bentuk lereng (apakah berbentuk cekung, cembung, atau seragam ?), serta juga dapat menunjukkan kemiringan lereng (apakah lereng tersebut landai atau terjal ?).
Selain itu dari peta kontur juga dapat digunakan untuk menentukan inversibility atau daerah yang tampak yang diperoleh dari pembuatan profil atau diagram penampang. Profil atau penampang adalah gambaran kenampakan suatu daerah apabila dipotong secara vertikal oleh bidang tegak lurus terhadap permukaannya. Berdasarkan gambar peta yang terdapat pada lampiran, terlihat bahwa semakin rapat garis antarkontur, maka kemiringan lereng semakin terjal. Sebaliknya, semakin jarang garis antarkontur, maka kemiringan lereng semakin landai.
Selain untuk mengetahui kemiringan lereng, identifikasi tentang garis kontur juga dapat untuk mengetahui bentuk lereng. Berdasarkan bentuknya, lereng dapat berbentuk seragam, cekung, ataupun cembung. Lereng dapat pula berbentuk tegak lurus atau tebing, sehingga bila digambarkan menunjukkan garis kontur yang saling berimpit.
Praktikum kali ini dimulai dengan menggunakan metode poligon terbuka. Untuk mencapai titik pertama poligon tertutup dari titik acuan menggunakan poligon terbuka yang hanya menggunakan beberapa titik saja. Kemudian untuk mengukur sebagian luas hutan cangkurawok dalam praktikum ini menggunakan metode poligon tertutup. Pada metode poligon tertutup digunakan 23 titik sehingga poligon dapat tertutup. Dan untuk membantu digunakan titik-titik detail terutama pada medan-medan yang ketinggiannya terjal. Titik-titik detail tersebut nantinya akan digunakan untuk membuat garis-garis kontur pada peta.
            Pada metode poligon yang diukur adalah jarak dan sudut dengan menggunakan pita ukur dan teodolit. Dengan menggunakan data metode poligon untuk mencari nilai α dan β untuk menghitung  X dan Y.
            Hasil yang didapatkan dari praktikum ini sangat dipengaruhi oleh ketelitian pada proses praktikum, baik ketelitian dari alat maupun ketelitian dari praktikan. Kondisi lingkungan juga berpengaruh pada proses praktikum yang nantinya mempengaruhi juga hasil yang didapatkan. Seperti misalnya pada praktikum kali ini terjadi kendala cuaca, yaitu ditengah-tengah proses praktikum hujan turun sangat lebat sehingga terpaksa praktikum dihentikan dan diteruskan hari berikutnya. Karena theodolit tidak boleh terkena hujan otomatis theodolit dilepas dari statif. Walaupun kunci body tidak dilepas tapi hal ini juga dapat mempengaruhi nilai yang didapatkan. Sehingga dilakukan koreksi agar mengetahui data yang didapatkan masih dalam batas toleransi atau tidak.



V. KESIMPULAN

            Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum kali ini yaitu dalam melakukan pengukuran suatu wilayah dapat menggunakan beberapa metode sehingga akan memudahkan dalam proses pengukuran dan proses pembuatan peta. Praktikan dapat melakukan perhitungan data hasil pengukuran karena pada praktikum-praktikum sebelumnya juga telah melakukan beberapa perhitungan dan dalam perhitungan dalam membuat peta kontur juga dapat dilakukan dengan baik karena praktikan cukup menguasai teori. Sehingga setelah melakukan pengukuran dan perhitungan praktikan dapat menuangkan hasil praktikum tersebut ke dalam sebuah peta kontur.





















DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Slamet. 2006. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sastrodarsono, Suyono. 2005. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. Jakarta: Pradnya Paramita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini