Selasa, 27 November 2012

CERITA INSPIRATIF


SANTRI JUGA LAYAK BERPRESTASI
Oleh: Jajang Roni Aunul Kholik

Catatan ini sengaja saya tulis dengan maksud sebagai ungkapan rasa syukur dan tahaddust bin nikmah” atas apa yang telah saya dapatkan selama perjalanan masa sekolah dan perkuliahan di S-1 Institut Pertanian Bogor (IPB). Saya adalah seorang mahasiswa penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama (Kemenag) RI pada program studi Manajemen Hutan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor angkatan 2009. Dengan dianugrahi kenikmatan ini, saya merasa terketuk hatinya untuk berbagi cerita kepada rekan-rekan semuanya tentang betapa nikmatnya mendapatkan beasiswa ini yang mungkin hanya sebagian santri yang bisa menikmatinya, sehingga mudah-mudahan Allah SWT menjauhkan saya dari sifat sombong (takabbur), riya, dan angkuh atas semua ini.
Tulisan ini saya beri judul “Santri Juga Layak Berprestasi”. Latar belakang pemilihan judul ini, terinspirasi dari suatu pandangan masyarakat selama ini terhadap kalangan santri di pesantren yang tekenal dengan gaya sarungan, orangnya alim-alim, tidak tahu pergaulan dunia luar, hanya fokus pada bidang keagamaan, gagap teknologi, ilmu pengetahuan alamnya rendah, tidak mungkin bersaing dengan lulusan sekolah umum, dan masih banyak lagi ungkapan masyarakat yang selalu terngiang ketika dilontarkan kepada mereka pertanyaan “seperti apakah santri itu ?”. Dalam catatan ini, saya akan mencoba menepis anggapan-anggapan di atas dengan berbagai pembuktian diri saya sendiri, karena jaman sekarang ini santri juga sudah mulai maju dan tahu tentang teknologi. Kuncinya hanya satu, asal memiliki keyakinan dan kemauan yang keras, insya Allah cita-cita dan target apapun yang kita inginkan akan dapat segera tercapai.
Seseorang yang ingin sukses mendapatkan apapun yang dia inginkan, harus berani mengawalinya dengan mimpi…mimpi...dan mimpi. Mimpi dalam hal ini bukan mimpi saat kita tidur nyenyak (istirahat) di malam hari, tetapi mencoba berpikir ke depan dan merenung sejenak untuk memikirkan ingin menjadi apa nanti di masa depan?  apa yang ingin dimiliki nanti di masa depan? apa yang ingin anda perbuat ketika anda bertemu dengan masa depan? Ketiga pertanyaan itulah dengan dibarengi sembilan kunci sukses yang senantiasa menjadi pegangan diri saya dalam membuat capaian target dan keinginan (cita-cita) saya pada tahun-tahun yang akan datang.
Miliki keyakinan “saya pasti bisa!”. Keyakinan (niat) yang kuat untuk mendapat beasiswa PBSB Kemenag RI ini sudah saya tanamkan dari awal kelas IX MTs (tahun 2005) yang mana pada saat itu merupakan awal kemunculan program PBSB Kemenag RI ini. Pada saat itulah ketika saya mulai mendapat kabar dari bagian infokom pondok pesantren dan tata usaha MAN, saya yakin bahwa saya bisa mendapatkan beasiswa tersebut dan nantinya menjadi salah satu bagian dari keluarga penerima PBSB Kementerian Agama RI, sehinggga saya menjadi bersemangat dan mencoba untuk mencari banyak informasi kepada pihak pondok pesantren mengenai program tersebut. Akhirnya usia saya menginjak kelas X MAN, saya mulai mempersiapkan apa saja yang diperlukan untuk dapat lulus program tersebut mulai dari belajar soal-soal ujian, mencari soal-soal TPA dan TBS, dan lain seebagainya.
Lewat tulisan singkat ini saya akan menceritakan historis perjalanan beasiswa yang saya dapatkan melalui program PBSB Kemenag RI yang sungguh ini merupakan mimpi besar sewaktu kelas IX MTs sampai XII MAN yang sangat saya harapkan terwujud pada waktunya untuk bisa mengenyam pendidikan sarjana (S-1) dengan mendapatkan beasiswa yang mungkin barangkali juga menjadi sebuah keinginan bagi semua santri dimanapun ia berada.
Carilah informasi sebanyak mungkin. Seiring berjalannya waktu, pendidikan saya mulai menginjak masa-masa SMA/MA, kekhawatiran pun datang menerpa karena tak terasa hanya sekitar tiga tahun lagi jalur beasiswa PBSB untuk angkatan saya akan segera dibuka. Disanalah saya mulai mencari lebih banyak lagi informasi baik mengenai persyaratan beasiswa, mata pelajaran yang diujiankan, latihan soal-soal SNMPTN, dan materi tes lainnya (TPA dan TBS) pun tak luput saya coba mencarinya. Akhirnya masa tingkat akhir SMA/MA pun telah datang menghampiri saya dan kekhawatiran pun kian menjadi-jadi. Tetapi Alhamdulillah, ternyata Allah SWT masih sangat berpihak pada saya. Kenapa tidak, diwaktu saya mempunyai keinginan yang kuat untuk mendapatkan beasiswa tersebut, pada tahun 2008 (tepatnya kelas XII MAN semester 1), Allah SWT menganugrahi nikmat kepada saya untuk diberikan jalan yang lebih mudah untuk mendapatkannya yakni diadakannya kegiatan “Pembibitan Santri Pondok Pesantren se-Indonesia” oleh pihak Kementerian Agama RI yang diikuti oleh sekitar 60 orang santri terbaik dari 30 Pesantren se- Indonesia.
Kegiatan di atas merupakan progam yang diluncurkan pemerintah sebagai persiapan para santri terbaik pilihan Kemenag RI untuk dapat lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian seleksi program PBSB. Tiga bulan lamanya, saya mendapatkan pendidikan yang lebih mengenai pelajaran yang diujiankan, ujian TPA dan TBS, persiapan mental, spiritual, dan psikologi untuk menghadapi masa depan. Dari kegiatan itulah, saya mulai mendapatkan titik terang yang lebih untuk benar-benar siap mengikuti ujian seleksi PBSB. Tak terasa waktu pun telah menginjak bulan Februari tahun 2009 dimana kegiatan “Pembibitan Santri Pondok Pesantren se-Indonesia” telah ditutup dan dinyatakan selesai. Menjelang akhir pertengahan semester dua pada kelas XII MAN, rasa resah dan gelisah pun semakin meningkat, karena sebentar lagi pembukaan beasiswa PBSB untuk tahun 2009 akan segera di-launching-kan oleh pihak Kementerian Agama RI. Sekaranglah waktu saya bagaimana mengoptimalkan folder beasiswa yang telah saya cari sejak tiga tahun terakhir saat itu. Saya coba update ulang informasinya, meng-update panduan tebaru beasiswa dengan mengunjungi situs beasiswa www.pondokpesantren.net kala itu. Saat itu, yang menjadi program studi favorit saya adalah statistika dan kehutanan di IPB Bogor, hingga akhirnya tanpa tawar-menawar lagi, saya memutuskan untuk memilih program studi tersebut yang memang benar-benar saya minati. Sesekali terbesit dalam hati, mampukah saya bersaing dengan sekitar 8.000 orang peserta tes beasiswa se- Indonesia? tapi, hal itu tidak menjadi batu rintangan buat saya, karena jika saya berhenti saat ini, berarti telah mengecewakan dan merusak impian saya selama tiga tahun lalu. Saya yakin dan percaya saja bahwa perjuangan ini akan indah pada waktunya.
Singkat cerita, tes beasiswa pun sudah saya lalui dengan sedikit rasa kecewa karena belum bisa optimal menjawab semua perintah soal di buku tes yang disediakan pihak panitia PBSB. Akhirnya pada saat kelulusan Ujian Nasional (UN) tiba, pihak sekolah mengumumkan beberapa orang teman saya yang waktu itu sudah banyak yang diterima di perguruan tinggi jalur PMDK yang telah mereka cita-citakan. Ada yang diterima di UIN Syarif Hidayatullah, UPI Bandung, UIN Bandung, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UGM Yogyakarta, dan bermacam lainnya. Tinggal saya tersisa yang belum menerima informasi kelulusan beasiswa PBSB, padahal hari itu adalah hari pengumuman surat kelulusan yang dikirim dari kantor kementerian agama tingkat kabupaten. Hati saya bertambah gelisah dan sesekali bersedih karena yang terpikirkan saat itu adalah bahwa ternyata saya mungkin tidak lulus tes beasiswa. Tetapi, tak lama kemudian nasib baik masih berpihak pada saya karena sesaat sebelum pengumuman kelulusan UN berakhir, bagian komisi pendidikan menyampaikan sepucuk surat yang berisikan bahwa saya lulus tes beasiswa PBSB dan diterima di Program Studi Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Seketika itu, kegelisahan saya hilang tergantikan dengan kegembiraan dan langsung di tempat itu juga saya melakukan sujud syukur atas kenikmatan mendapatkan beasiswa PBSB Kementerian Agama RI ini. Impian yang selama ini (tiga tahun lamanya) saya pertahankan dan perjuangkan, akhirnya tercapai juga.
Sebelum saya lebih jauh melanjutkan cerita masa perkuliahan di kampus IPB dengan beasiswa PBSB Kemenag RI yang saya dapatkan, terlebih dahulu saya ingin memperkenalkan diri saya. Nama lengkap saya Jajang Roni Aunul Kholik, biasa dipanggil Jajang. Dilahirkan di kota santri dan dikenal juga sebagai kota “kredit” yakni Tasikmalaya, Jawa Barat pada tanggal 9 Juli (22 tahun yang lalu). Saya merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Qur’an Cijantung-Ciamis Saya dibesarkan dari lingkungan keluarga yang sangat sederhana dengan kedua orang tua yang bekerja sebagai buruh penjahit pakaian.
Sebenarnya, jauh sebelum mendapatkan beasiswa PBSB Kemenag RI ini, saya telah merasakan nikmatnya mendapatkan beasiswa yaitu pada saat kelas X MAN, ketika itu saya terpilih sebagai siswa berprestasi terbaik se-Periangan Timur (Ciamis, Banjar, Tasikmalaya, dan Garut) tahun 2007 hingga selesai pendidikan di kelas XII MAN tahun 2009 sesaat sebelum saya mendapatkan beasiswa PBSB Kementerian Agama RI. Dalam konteks mendapatkan beasiswa dalam negeri, keinginan (niat) dan tekad yang kuat, kemauan yang keras, serta do’a yang selalu dipanjatkan kepada Allah SWT adalah kunci yang paling utama.
Menurut pandangan saya, yang mungkin menjadi pertanyaan sebagian teman-teman sekarang adalah bagaimana mungkin seorang santri mengenyam pendidikan di luar bidang keagamaan? Perlu kita ketahui bahwa dunia ini semakin berubah dan semakin maju, teknologi semakin canggih, internet dimana-mana, santri pun tidak boleh ketinggalan akan hal itu. Haruslah ada dari sebagian kita (santri) yang menjadi ahli informatika, psikologi, ekonomi, manajemen, kedokteran, pertanian, kehutanan, peternakan, ahli gizi, ahli komunikasi, dan terlebih lagi menjadi ahli agama tentunya. Hal tersebut dibutuhkan guna memajukan dunia pondok pesantren agar tidak lagi dikatakan sebagai kalangan terbelakang dan tidak ada kemajuan.
Menginjak masa perkuliahan, saya mulai berpikir untuk belajar lebih sungguh-sungguh lagi guna mendapatkan ilmu kehutanan yang nantinya dapat dikembangkan untuk dunia kepesantrenan. Saya mulai menyusun kembali target dan rencana hidup (cita-cita masa depan) yang ingin saya raih. Dengan strategi belajar efektif yang saya kembangkan sendiri dan manajemen waktu harian yang saya lakukan, akhirnya saya dapat menghasilkan nilai Indeks Prestasi (IP) akademik yang sangat tinggi (IPK di atas 3.25) tiap semesternya. Pikiran saya pun mulai berkembang, saya merasa kehidupan kampus haruslah banyak dimanfaatkan dan dilalui dengan banyak aktivitas yang bermanfaat buat masa depan saya.
Sejak saat ini, saya tidak boleh hanya memikirkan akademik sepenuhnya, karena dunia kampus adalah masa-masa mencari ilmu manajemen organisasi yang baik dan  memperluas jaringan serta memperbanyak teman, yang sangat sayang jika ditinggalkan. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba membagi sebagian waktu saya untuk kegiatan organisasi dan pendekatan kepada dosen-dosen di departemen, para motivator di kalangan senior, dan orang-orang sekitar yang punya pengaruh di organisasi, pemerintahan, dan instansi perusahaan. Selain itu, keberanian adalah kunci sukses lainnya yang terus saya pegang. Semenjak semester 5, saya sudah berani untuk menjadi asisten laboratorium dimana kegiatan di sana saya menggantikan dosen untuk mengajar di bagian praktikum di kampus. Sampai saat ini, tak kurang dari tiga laboratorium di departemen Manajemen Hutan, tak luput dari adanya nama saya di daftar staf-nya. Selain daripada itu, beberapa kegiatan organisasi di tingkat kampus, regional, maupun nasional sudah pernah saya ikuti sebagai delegasi fakultas kehutanan IPB Bogor. Itulah yang menjadi penting bagi saya sekarang, yaitu dimana nantinya pada beberapa tahun yang akan datang mereka lah yang mungkin menjadi penolong bagi saya atau bahkan mereka dapat saya tolong nantinya.
Itulah indahnya masa-masa perkuliahan, tidak ada aktivitas yang saya lakukan, yang tidak ada manfaatnya bagi kehidupan saya saat ini. Dengan apa yang saya lakukan di atas, akhirnya saya mendapatkan kepercayaan dari empat orang dosen dan sebagian besar mahasiswa Manajemen Hutan. Manfaat yang saya dapatkan sekarang dari hasil seperti itu adalah bukan hanya semata-mata demi uang yang melimpah. Apabila perlu saya sampaikan, uang yang pernah saya terima dari pekerjaan saya sangtlah kecil nilainya jika dibandingkan dengan pekerjaan sebagian kecil teman saya yang berwirausaha di kampus. Tetapi bukanlah hal itu yang menjadi tujuan utama saya, mendapat kepercayaan dosen dan teman-teman, jaringan ke institusi pemerintahan, persahabatan, dan pandangan baik yang didapat dari lingkungan sekitar saya adalah tujuan sesungguhnya. Saya sadar, keuangan untuk semntara tidaklah diperlukan, dengan uang living cost yang saya dapatkan tiap bulannya sudahlah cukup untuk menghidupi saya di kampus. Saya tahu bahwa dalam sebuah filosofi dikatakan: “jika sebatang pohon terakhir telah ditebang, jika segenggam udara terakhir telah dihirup, jika segelas air bersih terakhir telah diminum, jika sahabat baik terakhir telah tiada, sadarilah bahwa uang di dunia ini tidak akan berharga” Itulah filosofi yang sering saya pegang selama perjalanan hidup saya. Hanya kepercayaan, pengorbanan, dan kontribusi terbaik yang akan dikenang, bukan kekayaan sejati (uang) yang saya miliki.
Terakhir sebelum saya tutup cerita ini, saya ingin berpesan kepada semua rekan-rekan setia yang membaca tulisan ini, janganlah berhenti untuk bermimpi…bermimpi…dan bermimpi. Karena sebuah mimpi akan menjadi dorongan bagi kita untuk menjadikannya kenyataan di masa depan kelak. “Impian itu Gratis, anda boleh menulis apapun yang anda inginkan, tidak ada yang berhak menghentikan impian anda, kecuali anda sendiri”. “Lebih baik punya banyak cita-cita tetapi belum bisa kita capai untuk saat ini, daripada kita tidak punya cita-cita dan itu tercapai”. Terima kasih, salam hangat dari CSS MoRA. CSS…woy, CSS…woy, CSS…woy woy woy.
Powered By Blogger