Minggu, 01 Mei 2011

LAPORAN EKOLOGI HUTAN


Dari hasil pengamatan yang dilakukan terhadap ekosistem hutan alam al-huriyyah, terdapat banyak organisme yang ditemukan, mulai dari tingkat produsen, konsumer I, konsumer II, maupun dekomposer. Komponen-komponen ekosistem mulai dari tingkat produsen yaitu semua jenis tanaman autotrof yang ada, tingkat konsumen I yaitu belalang, semut, kepik, dan tawon, konsumen II terdiri dari laba-laba dan lalat, organisme detritivor seperti nyamuk dan dekomposer diantaranya rayap dan cacing. Banyaknya jenis dan jumlah organisme yang terdapat pada ekosistem hutan alam lebih beragam dibandingkan dengan ekosistem padang rumput. Hal ini berlawanan dengan pendapat Reso (1989) yang mengatakan bahwa meskipun padang rumput ini hanya ada satu stratum, tetapi keanekaragaman jenis mungkin tinggi jika dibandingkan dengan kebanyakan hutan. Perbedaan pendapat ini mungkin terjadi karena praktikum yang dilakukan itu menggunakan lahan yang kurang mewakili.
Semua keragaman jenis yang ada pada ekosistem hutan alam dikarenakan aspek biotik dan abiotik dari ekosistem itu sendiri. Dari aspek biotik pada ekosistem hutan alam lebih banyak terdapat tumbuh-tumbuhan, baik pohon, pancang, maupun berbagai jenis tumbuhan bawah, ilalang dan rumput-rumputan, daripada ekosistem padang rumput yang dimana dominan hanya terdapat ilalang dan rumput-rumputan. Dari aspek abiotik (air, udara, dan cahaya matahari) pada ekosistem hutan alam sangat menentukan kelangsungan hidup suatu komunitas, karena sangat mempengaruhi proses-proses biologis, kimia, maupun fisik pada ekosistem tersebut. Tiap-tiap organisme yang terdapat pada kedua ekosistem mempunyai peranannya masing-masing. Hal ini sesuai dengan pernyataan Indrianto (2006) yang menyatakan bahwa komponen ekosistem yang lengkap harus mencakup produsen, konsumen, pengurai, dan komponen abiotik.
Jika dilihat dari jenisnya, maka banyak terdapat perbedaan antara jenis spesies yang ada pada padang rumput dengan hutan alam, diantaranya ekosistem hutan alam tidak terdapat rumput teki. Hal ini disebabkan karena karakteristik rumput teki yang tidak tahan akan naungan atau termasuk jenis intoleran. Pada table yang disajikan, dapat dilihat bahwa persaingan yang terjadi pada ekosistem ini sangat tinggi terutama dalam memperoleh sinar matahari, karena jumlah produsen pada ekosistem ini sangat banyak dan masing-masing pasti membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda sesuai dengan kebutuhan. Apabila kita amati pada petak 4 (2mx2m), disana terdapat tanaman-tanaman produsen yang cukup banyak. Hal itu akan berdampak pada konsumen I maupun konsumen selanjutnya agar tetap bertahan hidup. Karena tanpa adanya produsen, maka konsumen I akan melakukan persaingan ketat demi mendapatkan produsen/makanan sehingga menimbulkan kepunahan, semakin banyak konsumen I yang punah, maka konsumen II dst. akan terpengaruh dan menjadi lebih sedikit.
Namun, apabila kita lihat pada piramida jumlah, komponen produsen lebih sedikit daripada konsumen I. hal ini dikarenakan adanya kekurangan pasokan cahaya matahari dan air sehingga tanaman yang mesti tumbuh disana tidak dapat bertahan dengan keadaaan seperti itu. Sehingga dengan adanya produsen yang sedikit, menimbulkan pengaruh yang signifikan pada konsumen I, II dan seterusnya semakin sedikit pula.
Pada kegiatan praktikum kali ini, kami menggunakan sistem sampling yaitu dengan mengidentifikasi dalam luasan 40 cmx40cm. hal ini dilakukan karena objek yang akan kita amati sangat banyak dan juga kesulitan tempat yang ada. Selain itu, pada praktikum ini, kami juga mendapatkan banyak kendala lain diantaranya struktur tanah yang berawa, dan juga dari topografi tanah bidang luasan yang akan kita amati sangat curam, terjal dan licin sehingga susah untuk diidentifikasi secara mendetail.

Kusmana dan Istomo. 1995. Ekologi Hutan. Bogor: Fakultas Kehutanan-IPB
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: PT Bumi Aksara.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger